Kamis, 29 Mei 2014

L O N E L Y

Posisi mana yang merupakan satu-satunya posisi unik dalam setiap tim sepak bola?
Jawabannya benar!
Penjaga gawang!
Selasa, 20 Mei 2014

You're Something Else

Pernah, di masa yang rasanya telah terlalu lama berlalu, saya menyukai sesuatu hanya karena seseorang yang lain meyukainya. Hanya karena saya senang memutar kembali senyum, kebahagiaan, kepuasan yang sama di dalam kepala. 
Ini, semacam mengulang kembali apa yang telah lalu. Yang tahun-tahun belakangan menolak di rasakan hati. Tetiba saja saya mulai menyukai apa yang seseorang tertentu sukai. Membenci apa yang bibirnya ucapkan tidak. Sesederhana itu. Tidak perlu ada yang tahu, namun cukup membuat saya merasa bahagia sendiri.
Suka? saya tak pandai melabeli rasa. 
Sabtu, 03 Mei 2014

'Entah' yang Saya Lupa Hendak Diletakkan di Mana

Berbulan-bulan lalu, mestinya ada 'entah' yang saya cukupkan jadi akhir. Mestinya. Namun tak saya lakukan, bukan? Saya memilih menutup mata dan tetap maju menjalani. Hingga tiba saya di sini, di keadaan yang -patah, ataupun mesti saya paksakan patah-yang mana pun itu, saya hanya sedang tidak memiliki kekuatan untuk mengikuti permainan besar yang direncanakan untuk saya.


Google

"Aku tak pernah bosan menatapmu, Juj. Menungguimu. Tidak pernah.
Namun belakangan, aku justru merasa kamu ajari sesuatu yang tadinya kupikir klise.
Suatu saat, mencintai adalah memutar hari tanpa seseorang yang engkau sayangi.
Sebab, dengan atau tanpa seseorang yang engkau kasihi, hidup harus terus dijalani."
_Kinanthi


Minggu, 13 April 2014

Diam Saja, Agar Semua Tenang

"Kau tahu, kadang-kadang seseorang melakukan satu kesalahan, kemudian kita membuat salah padanya dengan lebih banyak. Kita jadi tidak mengerti kenapa kata maaf dibuat, dan di mana seharusnya diletakkan. Karena di mata kita, orang lainlah yang selalu bersalah, dan kita yang terluka"
_Azure Azalea
Saya berubah, katanya. Kata orang-orang. Menjadi lebih pemendam dan tidak pedulian. Saya pemendam, iya. Tapi tidak, tidak pedulian. Saya hanya sedang menyayangi diri sendiri. Terlalu memikirkan apa-apa yang bukan porsi saya untuk dipikirkan, tidak membawa kebaikan untuk saya. Beberapa saat lalu, saya terlalu sibuk memusingi orang lain. Dan ketika tiba saatnya saya ingin dipusingi pula, entah ada, entah tidak, saya tidak merasakan ada  tangan yang terulur.

Jumat, 11 April 2014

Masih Manusia

Lelah? Jujur, iya. Sejauh ini dan saya mulai menghitung andai.
Sekiranya tanpa saya? Masih bisa berjalan normal, saya rasa. Akan ada jeda, menghitung kosong yang saya tinggalkan.
Kewajiban saya? Masih banyak orang lain yang bisa menunaikan dengan lebih sempurna.

Hingga hari ini, tempat itu masih tempat yang membuat saya merasa lebih kuat dari kenyataan. Sampai hari ini, tempat itu masih tempat yang membuat saya pandai bersyukur. Sampai saat ini.

Jumat, 04 April 2014

Ini Bukan Tentang Melupa

~Kak;

Awalnya. Dulu. Saya tidak menganggap serius apa yang kau lakoni saat ini. Semacam anggapan itu hanya rasa suka sementara ditambah sedikit tantangan mengenai penaklukkan. Hanya seperti itu. Semakin kesini, saya mulai sering menatap lama, memberi sedikit perhatian saat kau sedang duduk, menekuri HP, mengetik tak henti. Sesekali kau tersenyum. Kali yang lain berkerut keningmu. Saya belum pernah mendapatimu seperti ini.

Saya tidak punya kualifikasi apa-apa untuk sekedar menyampaikan satu dua kata kepadamu. Ini hanya tentang apa yang saya rasakan. Pungutlah satu atau dua bila kau rasa penting. Ini tentang melupakan ya? Saya pernah bodoh dulu, pernah dibodoh-bodohkan pula oleh orang lain. Lelaki. Saya pernah bodoh karena mencoba sekuat tenaga menghapus kenangan. Seakan saja ada yang bisa berlaku seperti itu. Lelaki itu membodoh-bodohkan saya, kerap hilang sabar, hanya karena saya tidak mampu melupa dengan cara yang dia inginkan. Tidak hanya seorang, beberapa.

Selasa, 01 April 2014

Saya Tak Lagi Kenal Kamu yang Sekarang

Sudah berbulan-bulan belakangan, saya tak kenal kamu lagi. Saya tak kenal kamu yang hilang fokus. Yang kerap melalui malam dengan mata nyalang, enggan terpejam. Kamu yang bersembunyi dibalik tawa, dibalik senyum tak tulus. Ah, saya sungguh tak kenal kamu yang sekarang.

Kerap, ditengah tawa saya mendapati matamu berkaca-kaca. Nafasmu tertahan sejenak, lalu keluar dalam hembus yang keras. Mencoba melegakan hatimu, pikirku. Sering pula, kau saya dapati duduk menekuri buku. Berlama-lama, tak selembarpun kau balik. Kebiasaan buruk lamamu kembali agaknya. Bersembunyi di balik tameng buku-buku yang selalu tak luput kau bawa kemana-mana.

*
"Bukan, aku bukan bermaksud bijak, aku hanya ingin bilang, aku tahu rasanya disakiti hingga nafas tercuri ke dasarnya. Kamu tahu sesuatu? hidup ini indah ketika kita bisa melihat sesuatu dari persepsi berbeda. Aku bertahan hidup, belajar menjadi lebih baik, semoga kamupun begitu. Kawan"
~Fiersa Besari

Sesakit itukah hatimu? Seterluka itukah? Hingga tak seperti biasa, tak kau bunyikan keluar. Kali ini, kau lebih memilih diam. Diam yang tak mendamaikan. Diam yang penuh beban. "Doakan aku, agar semuanya dapat kembali baik," pintamu, kerap kali. Apa yang mesti saya doakan? Bukankah kamu dan aku sama-sama tahu, sama-sama menerima, bahwa hidup adalah kesepakatan antar roh di alam sana, yang terjadi kemudian adalah eksekusi kontrak yang telah disepakati sebelumnya.

Kembali menapak dengan kuat, kamu. Meski kadang terlihat rapuh, angin-anginan, saya tahu kamu punya hati yang kuat. Keputusan yang terlanjur kau cetuskan? Bukankah hanya waktu yang mampu membuktikan. Bilapun salah, setidaknya ada yang dapat kau pelajari dari sana.
Jadilah kuat.
Tetaplah kuat.
Int 

Dengan sayang, 

hatimu.
Senin, 24 Maret 2014

Rindu

Setapak-setapak bersimpangan. Langkah semakin kerap, berjalan, hingga hampir berlari. Apa yang kita cari? Apa yang kau cari?

Ah, saya juga kerap hilang pedoman. Dulu, saya kesana-kemari membawa nyala 'kita' sebagai penghangat asa. Berharap demikian pula engkau. Namun, setiap kesempatan yang tak kita lunaskan dengan temu. Setiap tempat yang menggarisi jarak, meruntuhkan tempat saya dihatimu, ternyata.

Hingga tiba harinya semua memuncak. Meledakkan 'kita'. Sepucuk surat berisi pilihan-pilihan sulit. Saya tidak pernah menyangkan akan tiba harinya ketika semua perasaan saya, semua yang saya perjuangkan selama ini, akan dikonversikan ke dalam selembar kertas. Terdiam. Kebingungan. Saya seperti seorang anak yang pegangannya terlepas dikeramaian pasar malam. Entah harus kemana. Belum lagi sakit yang sangat, hingga tak mampu air mata saya menetes. Dan ketika tak tahan lagi, saya tergugu, tersengal dan mesti menumpukan kepala di lutut, dengan mulut menggigit buku jari untuk menahan sedu.

Hidup. Kompleks dan akan selalu membawa kita ke saat-saat seperti ini. Persimpangan-persimpangan yang mesti dijelajahi. Pilihan-pilihan yang mesti diputuskan. Saya memilih mundur, kau tahu. Tidak berarti putus pula semua hubungan perasaan. Siapa dapat menghapus hubungan yang dibentuk Tuhan?

Semoga. Ini semoga yang besar, suatu saat nanti akan tiba harinya ketika saya mampu melihat kebaikan dibelakang ini semua. Ketika saat melihatmu, melihat kalian, tidak ada lagi airmata sepulang saya ke rumah. Saya rindu, kau tahu?

Rabu, 15 Januari 2014
I Will Survive
~ Fahd Djibran


/I/

V, berapa banyak jejak kaki yang tertinggal di punggungmu, dari mereka yang meminjam tubuhmu untuk berpijak, menapak ketinggian lalu meludahi wajahmu atau melambaikan tangan tanpa salam perpisahan? Berapa kali harus kau hirup sesak udara kecewa, berapa lama lagi kau harus terus mengubah duka dan amarah menjadi selengkung senyum palsu di wajahmu?

/II/

V, kadang-kadang waktu menjelma pasir pantai di genggaman tangan kita yang rapuh, menggugurkan sejumlah kesempatan—dan mungkin kita tak bisa memungutnya kembali. Sebab ada sejumlah rahasia yang tetap harus kita sembunyikan dalam kepalan, menjadi semacam tinju yang selalu urung kita lemparkan pada seratus ribu wajah kesombongan dan kemunafikan. Maka rentangkan saja tanganmu, V, bukan untuk menyerah: Biarkan angin menyambut pelukmu, membelai wajahmu yang ragu. Sementara, simpanlah perih dalam dua matamu yang terpejam, bersabarlah, barangkali kau memang ditakdirkan menjadi seseorang yang setiap hari harus mengeringkan air matanya sendiri.

/III/

V, aku melihat nyala api di hatimu. Bara yang menempa keberanian dan mematangkan batinmu. Jagalah nyala itu, V, tapi jangan biarkan tubuhmu terbakar! Aku pernah melihat orang-orang dengan tubuh yang terbakar, nyala api membutakan mata mereka, rambut api berkobar-kobar di kepala mereka, lidah api membakar kata-kata mereka: Orang-orang kalah yang sedang menghancurkan diri sendiri! Jadilah manusia yang lebih kuat dari amarahnya sendiri, V. Masuklah kedalam golongan mereka yang lebih lembut dari apapun yang lebih tipis dari segala kepalsuan selaput halus yang tak berjarak dari kedua bola matamu—sebab yang paling halus itulah yang menggerakkan yang paling berat sekalipun. Demikianlah kita diajarkan, V, dari hal-hal baik, belajarlah mengucap syukur. Sementara dari hal-hal buruk, belajarlah untuk menjadi lebih kuat.

/IV/

V, aku mendengar getar suaramu, lirih doa-doamu, dalam nada-nada yang kaurahasiakan dari hiruk-pikuk pesta dunia. Dan tiba-tiba aku ingin menuliskan bait ini, barisan kata-kata yang di dalamnya kupanggil namamu seperti teman lama yang saling bertanya dalam gelap malam yang selalu memikul banyak kegelisahan. Semua yang ada pada diriku, V, kekalahan dan kegagalan-kegagalan, terangkum dalam melodi-melodi patah hati yang kau teriakkan. Aku suka kata-katamu tempo hari, V, “Semua orang perlu kekalahan, tetapi kekalahan bukan tempat tinggal yang baik...

/V/

V, aku bahagia ketika kau mengemasi lagi ranselmu dan mengikat kembali tali sepatumu. Kau yang mengembalikan semangatmu, membuatku seribu tahun lebih muda dan jauh lebih kuat memikul beban dunia. Aku suka melihat matamu yang tegar menatap cakrawala, sekali lagi, tubuhmu yang berdiri tegap, sekali lagi, senyummu yang seolah menantang keangkuhan kenyataan, sekali lagi. Tiba-tiba aku melihat dirimu yang berbeda sedang berdiri di atas dua sepatu yang sama. Tiba-tiba luka-luka dalam diriku menyembuhkan dirinya sendiri. Tiba-tiba segala yang telah gagal membunuhmu, menjadikanmu jauh lebih kuat... dan jauh lebih kuat dari sebelumnya...

/VI/

Apa yang telah membuatmu bertahan, V? Apa yang membuatmu kembali bangkit dari kegagalan? “Kita memanggilnya dalam gelap. Dia yang tak terlihat, tak tercium, tak teraba dan tak terdengar... tetapi selalu datang!” Katamu. V, aku selalu suka kata-katamu tentang Muasal Segala Sesuatu, aku selalu suka deskripsimu tentang Akhir dari Segala Sesuatu. Dan kita yang berada di antara kedua batasnya, tak bisa sejengkalpun lari dari wilayahnya!

/VII/

Teruslah bernyanyi, V.
* * *

Untuk itu, teruslah berjalan. Tidak perduli seberapa berat, tidak perduli seberapa sulit. Perjalananmu bukan mengenai penghargaan. Perjalananmu adalah pencarian, pencarian akan bahagia. Bahagia ketika kau mampu mencintai dirimu sendiri apa adanya, sebelum orang lain melakukannya terlebih dahulu untukmu. Bahagia ketika kau mampu menerbitkan satu saja senyum dibibir orang lain, karenamu. Bahagia, ketika ayah-ibumu dapat berkata "itu anak saya", ketika kakak-kakak lelakimu dapat dengan bangga berucap "itu satu-satunya adik perempuan saya".
Teruslah berjalan!
Dekap erat mimpi-mimpimu.
Kau berutang jadikannya nyata.
Ingat kembali hari ini, kata-kata ini, ketika suatu saat nasib kembali menelikungmu jatuh.

Rabu, 08 Januari 2014

Semua Akan Baik-Baik Saja

Harusnya hari ini ada resensi buku yang telah saya janjikan kepada diri sendiri untuk di terbitkan. Harusnya hari ini beberapa laporan telah saya selesaikan untuk keperluan kuliah. Harusnya hari ini saya habis mengkaji Al-Quran, setidaknya selembar. Harusnya hari ini saya menghadiri rapat dimana saya bertanggungjawab disana.

Harusnya. . .

Seharusnya banyak kewajiban yang mesti saya tunaikan. Namun, seperti beberapa hari yang lalu, saya hanya berdiam di kamar. Betah memandangi dinding putih, sesekali beralih pada baris-baris buku yang saya tumpuk saja disamping bantal, tak usai terbaca.

Beberapa hari ini, saya kembali perlu obat untuk mengantar paksakan lelap. Beberapa hari ini saya sedang tak menjadi anak yang baik, sahabat yang pengertian, pelajar yang seharusnya.
Beberapa hari ini, saya menjadi manusia yang sia-sia, manusia tak bermanfaat.

Beberapa hari ini.... Saya....

Beberapa hari yang terlewat sia-sia sejak pekik ramai orang, serta cemerlang kembang api mengawali tahun. Lembaran yang baru, seharusnya. Tetapi telah beberapa tahun saya begitu tidak menyukai awal penanggalan masehi. Tidak menyukai hal-hal yang terbawa kenangan pada hari itu tepatnya.

Lagi-lagi, otak kiri saya memproses alasan. Membenarkan perilaku diri. Harusnya yang kanan, yang mencari solusi. Solusi masalah mungkin. Masalah? Ada masalah, atau kamu yang mendefinisikan keadaan sebagai masalah?

"Ini sudah 2014, masa kamu masih begini saja?"
Iya. Saya masih seperti ini. Memikul beban setahun kebersamaan seperti Atlas memanggul langit.
Begitu merasa berat. Begitu merasa tersiksa. Begitu merasa Tuhan tak adil.

Dimana tak adilnya Tuhanmu, Yeni?
Diingatkan-Nya kau bila lupa. Dituntun bila tersesat.
Masih selalu ada jalan kembali.
Masih selalu ada kesempatan memulai.
Masih selalu dapat kau mengadu bila suatu saat nasib menelikungmu jatuh, sekali lagi.
Masih selalu ada janji yang mampu kau tepati.
Napasmu masih berhembus kan?

Jadilah kuat!
Ingat, Sintha menerobos hutan, bertahun-tahun terusir, terfitnah, bertahan hanya dengan satu rapalan "Semua akan baik-baik saja. Saya pasti kuat"
Bangun kembali. Tunaikan apa yang masih berupa janji. Kamu pasti bisa. Kamu pasti kuat. Karena, semua akan baik-baik saja!

Semoga.

Makassar, 8 Januari 2014

Senin, 06 Januari 2014

Kamu Lupa Mengajakku Ikut Serta

Hari ini kamu tersenyum. Tapi aku tidak bisa ikut tersenyum. Kamu lupa mengajakku ikut serta.
~ Fa
. . .




Bukankah tidak ada yang abadi di dunia ini? Apalagi hati manusia. Sedetik begini,
detik berikutnya bisa saja berubah drastis.
Namun kamu tahu, saya sudah dengan sekuat tenaga mencoba menggenggam
agar lingkaran kita tetap utuh. Akan tetapi menggenggam sendiri
suatu saat pun saya akan lelah sendiri. Tidakkah kamu ingin mempertahankan saya?
mempertahankan kita?

Mungkin genggaman saya yang tidak erat, atau mungkin kamu yang melepaskan.
Kita tidak akan pernah benar-benar tahu . Saya yakin, kamu pun berusaha. Entah dengan cara apa.
Hanya usaha kita mungkin tak memadai.
Terlalu banyak mungkin. Terlalu banyak ketidak pastian.
Sejak kapan kita mulai berhenti saling berbicara? Berbicara tentang langit yang saya suka, tentang
bintang, hujan, pelangi, dan matahari yang kamu cintai. Berbicara tentang apa saja.

Ha-hal yang sudah kita bangun bertahun-tahun,
dinding-dinding diantara kita yang perlahan-lahan mulai runtuh, mengapa kini malah terasa semakin menebal?
Kita yang seperti ini? Atau hanya saya yang terdampar jauh?

September kita akan segera datang.
Ayo melewatkannya bersama lagi. Seperti dulu, seperti september pertama yang kita habiskan bersama.
Tanpa terkecuali kali ini. Benar-benar kita yang utuh. Kita BERLIMA.

***

*Ini saya tulis, sebelum september ketiga kita menjelang.
Dan harapan saya terkabul. 20 September, hanya kita BERLIMA. 
Terima kasih Tuhan. ^-^
Minggu, 05 Januari 2014

Tetap Seperti ini Saja

Tetap seperti ini saja
Kau tahu persis warna kesukaan saya putih, saya tahu persis kau cinta warna biru. Cukup sampai disana. Tak elok bila saya terlampau banyak tahu tentangmu. Siapa dapat menahan bila harap semakin besar bukan?

Cukup seperti ini saja
Kau, bertandanglah kemanapun kau suka. Sesekali, saat kau berbalik, seulas senyum sudah cukup
Demikian pula tepukan sayang dikepala. Cukup. Cukup seperti itu saja.

Tetap seperti sekarang saja
Jangan pernah berharap "bilakah tiba saatnya nanti?". Sebab 'nanti' adalah kata yang berbahaya. Bisa habis kau dibabat luka. Luka harapan yang tak akan pernah sampai.

Tetap seperti saat ini saja
Menyimpan asa akan masa depan yang tak pasti bukan hal yang bijaksana. Apalagi dengan keadaan yang terlalu banyak disisipi ragu. Bilakah ini? Akan tepatkah bila? Mampukah kita?

Mari tetap seperti saat ini saja
Nimati apa yang mampu kita kecap sekarang. Masalah perasaan, biarlah tetap menjadi rahasia hati masing-masing. Setiap getar, biarlah hanya mengguncang hati. Entah berhenti, atau bertambah besar, Cukuplah Tuhan yang mengatur.

"Sama seperti kita, perasaan punya jatah usianya sendiri-sendiri. Manusia bukan Tuhan yang bisa mengatur ajal cuman dengan berkata; Kun!"
 _Perempuan

Mari tetap di jalur masing-masing.
Saya berdoa sepenuh harap agar tak saling bersilangan.

Makassar, 1 Januari 2014
Rabu, 01 Januari 2014

Selamat

~ Teruntuk,

Lelaki yang membuat saya mencintai langit dan laut

Detik, menit, jam, hari,minggu, bulan, dan akhirnya tahun berganti. Usiamu tak lagi sama.
Saya hanya mampu mengirim doa. Doa yang panjang kepada Tuhan saya.
Kebesaran apapun yang selama ini kau namai sang Esa, semoga Dia sepengasih yang terkabar.
Semoga ditumpahkannya pintaku ke pangkuanmu.

Tak tepat rasanya bila hanya saya yang berdoa. Sungkupkan saya dengan semesta doamu pula.
Semoga saya tetap diberi kekuatan. Semoga tak rubuh ketegaran saya.
Semoga cepat saya diberi kelapangan serupa Ayub. Kelapangan untuk menerima, selamat ulang tahun saya tidak akan pernah lagi dapat saya ucapkan langsung di depanmu.

Hendak hadiah apa?
Bilakah cukup sesimpul pita untuk kadomu?
Kamu teramat istimewa, yang hanya sebuah dua buah barang untukmu, malu saya namai hadiah.
Dulu bahagiaku selalu menjadi junjunganmu. Dulu.
Olehnya, lihatlah saya kini. Cukup diberi kelapangan oleh Tuhan.
Cukup dianugerahinya tawa.
Tak senantiasa bahagia memang hidup saya. Ada hari-hari ketika saya ingin menutup mata bagi semua hal. Namun, disanalah indahnya hidup bukan? Setiap detik adalah kejutan.
Yang tak terbaca bahagia atau tangis yang dibawanya.
Semoga genap untuk kau anggap hadiah.


Sekali lagi, selamat mengulang hari kelahiran!
Semoga -ini SEMOGA yang BESAR- cepat saya mendamaikanmu di hati.
Agar tak banyak luka hati orang lain.