Minggu, 13 April 2014

Diam Saja, Agar Semua Tenang

"Kau tahu, kadang-kadang seseorang melakukan satu kesalahan, kemudian kita membuat salah padanya dengan lebih banyak. Kita jadi tidak mengerti kenapa kata maaf dibuat, dan di mana seharusnya diletakkan. Karena di mata kita, orang lainlah yang selalu bersalah, dan kita yang terluka"
_Azure Azalea
Saya berubah, katanya. Kata orang-orang. Menjadi lebih pemendam dan tidak pedulian. Saya pemendam, iya. Tapi tidak, tidak pedulian. Saya hanya sedang menyayangi diri sendiri. Terlalu memikirkan apa-apa yang bukan porsi saya untuk dipikirkan, tidak membawa kebaikan untuk saya. Beberapa saat lalu, saya terlalu sibuk memusingi orang lain. Dan ketika tiba saatnya saya ingin dipusingi pula, entah ada, entah tidak, saya tidak merasakan ada  tangan yang terulur.

Jumat, 11 April 2014

Masih Manusia

Lelah? Jujur, iya. Sejauh ini dan saya mulai menghitung andai.
Sekiranya tanpa saya? Masih bisa berjalan normal, saya rasa. Akan ada jeda, menghitung kosong yang saya tinggalkan.
Kewajiban saya? Masih banyak orang lain yang bisa menunaikan dengan lebih sempurna.

Hingga hari ini, tempat itu masih tempat yang membuat saya merasa lebih kuat dari kenyataan. Sampai hari ini, tempat itu masih tempat yang membuat saya pandai bersyukur. Sampai saat ini.

Jumat, 04 April 2014

Ini Bukan Tentang Melupa

~Kak;

Awalnya. Dulu. Saya tidak menganggap serius apa yang kau lakoni saat ini. Semacam anggapan itu hanya rasa suka sementara ditambah sedikit tantangan mengenai penaklukkan. Hanya seperti itu. Semakin kesini, saya mulai sering menatap lama, memberi sedikit perhatian saat kau sedang duduk, menekuri HP, mengetik tak henti. Sesekali kau tersenyum. Kali yang lain berkerut keningmu. Saya belum pernah mendapatimu seperti ini.

Saya tidak punya kualifikasi apa-apa untuk sekedar menyampaikan satu dua kata kepadamu. Ini hanya tentang apa yang saya rasakan. Pungutlah satu atau dua bila kau rasa penting. Ini tentang melupakan ya? Saya pernah bodoh dulu, pernah dibodoh-bodohkan pula oleh orang lain. Lelaki. Saya pernah bodoh karena mencoba sekuat tenaga menghapus kenangan. Seakan saja ada yang bisa berlaku seperti itu. Lelaki itu membodoh-bodohkan saya, kerap hilang sabar, hanya karena saya tidak mampu melupa dengan cara yang dia inginkan. Tidak hanya seorang, beberapa.

Selasa, 01 April 2014

Saya Tak Lagi Kenal Kamu yang Sekarang

Sudah berbulan-bulan belakangan, saya tak kenal kamu lagi. Saya tak kenal kamu yang hilang fokus. Yang kerap melalui malam dengan mata nyalang, enggan terpejam. Kamu yang bersembunyi dibalik tawa, dibalik senyum tak tulus. Ah, saya sungguh tak kenal kamu yang sekarang.

Kerap, ditengah tawa saya mendapati matamu berkaca-kaca. Nafasmu tertahan sejenak, lalu keluar dalam hembus yang keras. Mencoba melegakan hatimu, pikirku. Sering pula, kau saya dapati duduk menekuri buku. Berlama-lama, tak selembarpun kau balik. Kebiasaan buruk lamamu kembali agaknya. Bersembunyi di balik tameng buku-buku yang selalu tak luput kau bawa kemana-mana.

*
"Bukan, aku bukan bermaksud bijak, aku hanya ingin bilang, aku tahu rasanya disakiti hingga nafas tercuri ke dasarnya. Kamu tahu sesuatu? hidup ini indah ketika kita bisa melihat sesuatu dari persepsi berbeda. Aku bertahan hidup, belajar menjadi lebih baik, semoga kamupun begitu. Kawan"
~Fiersa Besari

Sesakit itukah hatimu? Seterluka itukah? Hingga tak seperti biasa, tak kau bunyikan keluar. Kali ini, kau lebih memilih diam. Diam yang tak mendamaikan. Diam yang penuh beban. "Doakan aku, agar semuanya dapat kembali baik," pintamu, kerap kali. Apa yang mesti saya doakan? Bukankah kamu dan aku sama-sama tahu, sama-sama menerima, bahwa hidup adalah kesepakatan antar roh di alam sana, yang terjadi kemudian adalah eksekusi kontrak yang telah disepakati sebelumnya.

Kembali menapak dengan kuat, kamu. Meski kadang terlihat rapuh, angin-anginan, saya tahu kamu punya hati yang kuat. Keputusan yang terlanjur kau cetuskan? Bukankah hanya waktu yang mampu membuktikan. Bilapun salah, setidaknya ada yang dapat kau pelajari dari sana.
Jadilah kuat.
Tetaplah kuat.
Int 

Dengan sayang, 

hatimu.