Rabu, 27 Februari 2013

Mencubit Diri Sendiri


Int
"Nak, berhenti mempersoalkan perbuatan orang lain yang kamu anggap salah. Pastikan dulu perbuatanmu lebih baik, bila hendak menegur yang lain."
_Mama



 Mencubit diri sendiri. Itu yang selalu ibu saya ingatkan ke saya. Sejak kecil saya sebenarnya hobi sekali berbicara. Tidak ada yang menandingi kecerewetan saya dirumah. Terlahir sebagai satu-satunya makhluk berjenis kelamin perempuan dikeluarga, selain ibu saya tentunya, membuat saya lebih bebas berceloteh. Mengomentari ini itu. Paling banter kalau kakak saya bosan mendengar saya berceloteh tidak karuan, dikurungnya saya dikamar. 

Sampai suatu hari, mungkin bosan mendengar saya mengomentari ini-itu, sedangkan perbuatan saya sendiri tidak karuan, ibu saya menegur "Nak, berhenti mempersoalkan perbuatan orang lain yang kamu anggap tidak benar. Pastikan dulu perbuatanmu lebih baik, pastikan dulu kamu tidak akan melakukan kesalahan yang sama, bila hendak mengomentari orang lain." Saya terdiam memndengar perkataan ibu saya. Lama saya memikirkan apa yang ibu saya katakan. Entah mengapa dari beribu nasehat yang diberikan ibu saya, nasehat itu yang paling tertanam di benak saya. Sejak saat itu, bila melihat sesuatu yang menurut saya tidak benar, dan keinginan untuk berkomentar muncul, saya selalu mengembalikan ke diri saya sendiri, lebih baik kah saya dari orang lain? tidak pernahkah saya melakukan kesalahan yang sama? Bisakah saya menjamin suatu saat saya tidak akan melakukan hal yang sama pula?

Mencubit diri sendiri. Ajaran ibu saya yang sampai saat ini terus saya coba terapkan. Bukan hal yang mudah mencoba menahan diri dari mengomentari sesuatu yang salah menurut hati maupun logika kita. Saat melihat orang lain sibuk berkomentar ini itu, menegur sana-sini, tanpa memperhatikan perbuatannya sendiri, kadang saya gemas sendiri. Tapi tidak semua orang mendapat pelajaran yang sama bukan? Tidak gampang diam saat melihat orang lain melakukan sesuatu yang menurut kita salah. Namun kadangkala saya tidak tahan juga. Keinginan untuk mengomentari kadang muncul begitu kuatnya. Mungkin sudah seperti itu tabiat manusia, lebih gampang mencari-cari kesalahan orang lain, dari pada membantunya memperbaiki yang salah. Kalau sudah tidak tertahankan kejengkelan saya, paling-paling orang-orang di sekitar saya yang jadi sasaran. Tidak terhitung orang-orang terdekat jadi target gigitan saya. Menggigit orang lain memang menjadi pelarian saya. Mau bagaimana lagi, saya kan masih manusia biasa, masih bisa merasakan kejengkelan yang amat sangat. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your caring..... :)