Minggu, 28 Oktober 2012

Yang tidak Pernah Sempat aku Titipi Terima Kasih

"Ya, aku bisa mencintaimu seperti peri gigi. Yang kau bisa percaya, untuk kau titipkan apa yang pernah patah dari hidupmu"
_HakunaMatata

Ini kata-kata yang paling senang kamu kutip dari blog yang kamu tahu senang aku datangi.

Karena kamu gagu bila berhadapan dengan kata-kata.
Kamu lebih senang membawakan kata-kata kepunyaan orang lain yang sekiranya maksudmu dapat terwakilkan disana.
Seperti pada saat kamu begitu sibuk mencoba meyakinkan bahwa meninggalkan "keluarga lain" yang aku punya itu keputusan paling bodoh yang akan kubuat, kamu berulang kali mengulang "meninggalkan tempat yang menjadi rumahmu itu bukan pilihan, bodoh bila pikiranmu bahkan mengkategorikannya sebagai sesuatu yang dapat dipilih". Entah dari mana kamu mendapatkan kata-kata itu.

Terima kasih untuk usahamu menyederhanakan isi pikiranku yang ruwet beberapa hari ini.
Terima kasih untuk begadang bermalam-malam hanya untuk mendengarkan pertimbangan-pertimbangan aneh yang terus saja ku ulang demi meyakinkan hatiku bahwa tak banyak yang akan aku kecewakan dengan apa yang ku putuskan nantinya.
Terima kasih. Kamu!
Ah, kamu benci kata ganti itu bukan?
Baik, untuk sekali ini tidak apalah.
Terima kasih Khaidir Akbar Rizki.
Senang?

Kamu, entah mengapa aku lebih senang menggunakan kata itu untuk menyebutmu. Mungkin karena aku masih selalu berusaha berjarak. Memisahkanmu sebisaku dari kehidupan lain yang ku punya. Tidak perduli seberapa besar kamu selalu berusaha untuk memasuki tiap bagiannya. Hey, kamu tahu kan aku tidak berusaha menyembunyikanmu? Aku hanya berusaha mejadikan segalanya hanya diantara kita saja. Kamu tahu aku paling benci ketika kehidupan pribadiku dijadikan tolok ukur orang lain untuk menilaiku.

Keadaan beberapa saat lalu memberikan banyak pelajaran untukku. Pertama, bukan suatu pilihan untuk meninggalkan salah satu tempat yang menjadi rumah bagiku. Bukan, itu sama sekali bukan pilihan. Aku bodoh ketika bahkan mengkategorikannya sebagai pilihan. Meski ada hal lain yang harus aku korbankan untuk mempertahankannya, itu tak mengapa. Yang kedua, seberapa besar pun usahaku untuk memisahkanmu dari bagian hidupku yang lain, menjadikan semuanya hanya diantara kita saja,  itu tak akan pernah berhasil. Karena apapun yang terjadi, kamu selalu menjadi salah satu tempat untukku berkeluh-kesah.

Lega rasanya bisa menuliskan ini semua.
Karena aku selalu tidak pernah diberi kesempatan untuk berterima kasih padamu.
Kamu benci bila aku berterima kasih.
Hey, mengapa begitu banyak hal yang senang ku lakukan namun kau membenci itu?

Sekarang aku ingin berterima kasih kepada Tuhanku, Allah SWT.
Untuk cobaan-Nya yang mendewasakan.
Untuk jalan keluar yang membuatku tak harus membuang bagian penting dalam hidupku.
Untuk kehadiranmu yang selalu menjadi tali yang mengikatku ke bumi. Tak lepas landas kelangit.
Untuk kesabaran yang dianugerahkan-Nya padamu dalam menghadapiku dan cara berpikirku yang terkadang tidak rasional menurutmu.
Terima kasih. Terima kasih Tuhan. Terima kasih untuk kasih-Mu yang selalu menjadi amunisiku menghadapi semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your caring..... :)